Pengalaman Ujian CPNS Pemda Bekasi



Di tengah masa sulit mencari pekerjaan, menjadi PNS merupakan dambaan hampir setiap lulusan perguruan tinggi maupun sekolah menengah atas. Aku sendiri juga merupakan produk lulusan pada awal masa krisis, tepatnya April 1998, dimana lapangan pekerjaan semakin sempit, sementara lulusan semakin banyak. Saat itu lowongan PNS juga semakin sempit dengan adanya kebijakan minus growth akibat krisis moneter. Hampir semua departemen tidak menerima lowongan, kecuali Departemen Keuangan dan Pemerintah Daerah. Satu-satunya jalan akhirnya saya hanya melamar ke Pemda Propinsi Jawa Barat, karena cuma itu yang menerima lowongan sesuai dengan kualifikasi sarjanaku (Teknik Planologi). Pendaftaran hanya dibuka selama 4 hari saja dan harus lewat pos. Untungnya segala persyaratan telah kumiliki, antara lain kartu kuning, ijazah yang telah dilegalisir, surat keterangan sehat dari dokter yang diakui pemerintah (bisa dokter puskesmas atau RSUD), dan surat keterangan kelakuan baik (sekarang SKCK) dari Polres (untuk PNS biasanya harus setingkat Polres, bukan Polsek). Tapi saat itu sempat stress juga karena transkrip belum keluar (enam bulan setelah kelulusan) sehingga aku harus pontang panting mengurust transkrip sementara. Dan transkrip sementara baru selesai tepat pada hari terakhir pendaftaran!!

Dengan tergopoh-gopoh aku lengkapi amplop surat lamaran dan langsung menuju kantor pos besar di alun-alun Bandung (karena kalau kantor pos setempat khawatir telat sampai euy). Waktu menunjukkan pukul empat sore, ketika aku sampai di halaman kantor pos. Penuh sekali waktu itu dengan para pelamar sejenis yang hendak memasukkan lamaran. Dengan sedikit bersabar aku mengantri sambil berharap-harap cemas, semoga belum tutup loketnya….

Alhamdulillah, sampai juga aku di depan loket, langsung saja surat lamaran ditimbang, dan bayar kilat khusus Rp. 2000 (waktu itu). Surat sudah terkirim, tinggal usaha dan doa, semoga lulus persyaratan administrasi, minimal mereka tidak tahu kalau transkripku sebenarnya masih sementara yang dilegalisir.

Tak terasa, tiga minggu berlalu, aku jatuh sakit typhus, sehingga gak bisa pergi kemana-mana, termasuk ke Bandung. Padahal aku sudah kembali ke rumah orang tuaku di Jakarta. Hari itu tukang pos datang, mengirimkan surat balasan dari Biro Kepegawaian Propinsi Jawa Barat yang mengabarkan bahwa aku lolos seleksi administrasi dan berhak mengikuti ujian tertulis di Bandung, sekaligus di dalamnya terselip kartu ujian tertulis. Alhamdulillah ya Alloh, aku lolos tahap pertama dan bersiap mengikuti tes empat hari kemudian. Tetapi bagaimana dengan kondisiku yang masih terbaring lemah di tempat tidur? Oleh dokter aku divonis tiga bulan tidak boleh beranjak dari tempat tidur!! Oh…betapa sedihnya aku, sementara masa depan harus kukejar dengan kondisi seperti ini….

Aku beruntung punya orangtua yang sangat perhatian dan kasih sayang tinggi. Beliau bersedia mengantarku ke tempat tes di Bandung dengan merombak sedikit mobil Kijangnya agar bisa ditaruh kasur di atasnya. Hari Senin sore aku berangkat ke Bandung untuk mengikuti tes keesokan harinya. Selasa pagi, aku bersiap-siap berangkat dari hotel menuju lokasi tes di Jl. Gudang Utara Bandung. Seperti biasa sebelum tes sudah kusiapkan 10 batang pensil 2B, penghapus, meja jalan atau papan ukuran A4 untuk alas, dan rautan serta kartu ujian. Dengan gontai aku melangkah ke tempat ujian dan langsung mencari nomor tempat duduk sesuai dengan yang tertera di kartu ujian. Tanda waktu ujian dimulai, dengan kepala masih pusing aku mengerjakan soal demi soal semampuku. Soal-soal yang diujikan saat itu tidak jauh beda ketika menempuh ujian UMPTN (sekarang SPMB) dengan tingkat kesulitan satu tingkat lebih rendah. Kucoba jawab dengan cepat yang dapat dijawab, sementara soal-soal yang belum terjawab diabaikan dahulu. Waktu masih setengah jam menjelang ujian usai, kubaca lagi soal-soal yang belum terjawab, namun karena masih banyak, terpaksa ditembak saja satu persatu berdasarkan wawasan dan insting yang kumiliki. Waktu masih seperempat jam menjelang usai, tetapi kepalaku semakin pusing setelah hampir dua tigaperempat jam mengerjakan soal. Setelah kulihat semua soal dijawab, segera kutinggalkan bangku karena sudah tidak kuat menahan sakit. Bergegas aku keluar ruangan dan langsung mendarat di kasur yang tersedia di mobil. Sore itu langsung aku kembali ke Jakarta dengan kondisi kritis.

Hari demi hari berlalu, harap-harap cemas kumenanti hasil tes tertulis itu. Aku hanya berharap dari teman-teman yang kutitipi nomor tesku, moga-moga mereka membaca koran lokal setempat dan melihat pengumumannya. Seminggu berlalu, belum juga tanda-tanda hasil tes keluar, padahal panitia mengumumkan paling cepat seminggu telah keluar hasil tesnya. Malampun tiba, seseorang menelponku dan mengabari bahwa nomor tesku muncul pada pengumuman koran hari itu. Esoknya surat panggilan tes wawancara datang. Alhamdulillah, tahap kedua lolos, tinggal menanti tes wawancara (saat itu masih disebut Litsus, warisan Orde Baru terakhir yang masih berlaku). Biasanya sih 90% hampir dipastikan lulus bila telah melewati ujian tulis, dan jarang sekali gagal di wawancara, kecuali terdapat hal-hal yang mencurigakan dan dipandang dapat membahayakan keamanan negara.

Minggu berikutnya, aku kembali ke Bandung dengan kondisi yang masih belum normal. Sesampainya di Kantor Sospol untuk wawancara, ternyata antrian sudah panjang, sehingga aku terpaksa daftar antri, kemudian kembali ke hotel sambil menunggu waktu wawancara. Hari itu kurang lebih 350 orang diwawancara oleh tim Litsus yang terdiri dari aparat Pemda Propinsi Jawa Barat dan Bakorstanasda Jawa Barat. Peserta diminta mengisi form yang menunjukkan silsilah keluarga, aktivitas diri dan keluarga, CV singkat, dan materi lain seputar pribadi dan lingkungan tempat tinggal kita. Kemudian form tersebut diserahkan ke panitia, dan langsung di cross check kebenaran isiannya melalui wawancara. Di samping itu juga ditanya motivasi dan keinginan bekerja sebagai PNS, kesediaan ditempatkan di seluruh Indonesia, korupsi, dan lain-lain (maaf lupa), sekitar setengah jam lebih. Cuma gaji tidak ditanya, karena memang sudah ada Peraturan Pemerintah mengenai gaji, sehingga tidak ada tawar menawar soal gaji, hanya harus bersedia meneken kontrak dengan gaji sesuai PP.

Dua minggu berlalu, tukang pos yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku kembali lolos tes wawancara, dan bersiap untuk pemberkasan sebelum menerima SK CPNS. Pemberkasan adalah pengumpulan berkas-berkas administrasi asli yang diperlukan oleh seorang PNS. Kalau tidak salah ingat, kita diminta untuk mengisi form berisi riwayat hidup, riwayat pendidikan, surat pernyataan bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia, surat pernyataan tidak tersangkut kasus hukum, dan surat pernyataan lainnya (lupa), kemudian juga dilampirkan kembali kartu kuning asli dan legalisir, SKCK asli dan legalisir, Surat keterangan dokter dari pemerintah (bisa Puskesmas atau RSUD, dan dokter ybs harus punya NIP) asli dan legalisir, sekarang ditambah surat keterangan bebas narkoba dari dokter pemerintah juga (idem), ijazah dan transkrip legalisir, fotokopi KTP, dsb. (nanti juga disebutkan kalau lulus, makanya siapkan saja seluruh berkas administrasinya). Pemberkasan dilakukan di gedung aula Propinsi Jawa Barat dengan membawa seluruh dokumen administrasi.

Dua bulan kemudian, datang kembali surat panggilan terakhir untuk menerima SK CPNS. Dengan tetap berharap-harap cemas, aku datang memenuhi panggilan di Gedung Sate untuk mengambil salinan SK CPNS. Setelah semua peserta yang lolos seleksi berkumpul di aula Gedung Sate dan mendengarkan arahan singkat dari panitia, satu persatu nama peserta dipanggil dan dibagikan salinan SK CPNS sekaligus penempatan di unit kerja yang memerlukan. Begitu namaku dipanggil, langsung saja aku maju ke depan dan mengambil surat berisi SK CPNSku. Ku buka pelan-pelan, dan kubaca baris demi baris. Sempat terbayang seandainya ditempatkan di Jawa Barat bagian timur atau selatan, aku harus pindah dan cari tempat tinggal baru. Alhamdulillah, ternyata aku ditempatkan di Pemerintah Kota Bekasi, yang cukup dekat dengan rumahku di Jakarta, sehingga aku gak perlu cari rumah baru untuk sementara sebelum berkeluarga.

Seminggu setelah menerima SK, aku melapor ke Bagian Kepegawaian Pemkot Bekasi, dan setelah diberi pengarahan, aku ditugaskan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Sekali lagi, alhamdulillah, langkah awal menjadi PNS telah digapai, tinggal tahap berikutnya menjadi PNS 100% setelah melalui program Pra Jabatan.

Delete this element to display blogger navbar

 
© KarirBagus.com | Team by KarirBagus.com in collaboration with www.karirbagus.com, and Team KarirBagus.com